KRIMINALITAS YANG SERING TERJADI TERHADAP REMAJA

KRIMINALITAS REMAJA

 

KRIMINALITAS remaja saat ini sedang meningkat. Berdasarkan fakta databooks, jumlah pelaku kekerasan fisik dan psikis di kalangan remaja akan melebihi 100 kasus setiap tahunnya. Perlu di tegaskan, data di atas hanya merujuk pada jumlah pelaku dan bukan jumlah korban.

Sementara itu Kompas.id melaporkan dari sumber lain terdapat 136 kejadian kekerasan di sekolah pada tahun 2023.
Bentuk kekerasan yang utama adalah perundungan dan kekerasan seksual.

Melihat kasus kriminalitas remaja ini, dapat kita katakan bahwa lembaga pendidikan, mempunyai tanggung jawab yang sangat besar untuk memberikan pengawasan dan dukungan tambahan kepada putra-putrinya.

Media sosial hebohkan dengan berita pembunuhan sebuah keluarga yang di lakukan oleh remaja laki-laki berusia 16 tahun, JND. Motif pelakunya adalah karena mabuk dan emosinya tidak stabil karena hal-hal sepele.
Berbagai saluran berita online memberitakan bahwa pelaku mengalami gangguan emosi karena korban tidak menyukai hewan peliharaan pelaku.

Di sebutkan pula, pelaku dan korban merupakan mantan kekasih. Pelaku kemudian membunuh korban R (15 tahun) secara membabi buta bersama ibu dan dua saudaranya,

Dan dia bersiap untuk mengakhiri hidup Pastor R begitu dia tiba di lokasi kejadian. yang lebih mengejutkan dan mengerikan secara psikologis adalah bahwa pelaku dalam laporan resmi mengakui telah memperkosa korban dan ibunya yang berada dalam keadaan tidak berdaya.

KRIMINALITAS REMAJA

Kasus ini menunjukkan bahwa pelaku kriminalitas remaja melakukan kekerasan baik fisik maupun psikis Karena berbagai hukuman yang di jatuhkan atas tindakannya, ia bisa menghadapi hukuman penjara seumur hidup atau bahkan hukuman mati.
Dalam psikologi, usia pelakunya mendekati usia remaja akhir.

Pada tahap ini remaja sedang berusaha mencari jati di rinya, Ia mulai memperjelas kebiasaan dan nilai-nilai yang tertanam dalam di rinya oleh keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

Keputusan perilaku sangat mempengaruhi oleh pertimbangan tujuan dan nilai yang di yakini seseorang Kasus ini menunjukkan pelaku mempunyai agenda pribadi
Namun, sangat memalukan untuk menginternalisasikan nilai-nilai yang salah.

Sekali lagi, lingkungan mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap keyakinan seseorang Terkadang apa yang benar itu salah dan sebaliknya Kami berharap kejadian ini menjadi pengingat bagi para orang tua dan lembaga pendidikan untuk lebih memantau interaksi anak-anaknya.
Selain itu, jika ditentukan bahwa anak tersebut rentan terhadap masalah emosional, dukungan yang tepat dapat diberikan.

Author: Kaman Danu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *